Tentang sebuah akhir catatan perjalanan yang paling dirindukan mungkin juga tidak. Aku berharap, masa mendatang akan ada kerinduan cinta yang menggetar di setiap detikan waktu Selamat jalan masa lalu, aku terpaksa membungkusmu dalam bingkai kenangan Dan ijinkan aku menjemput kekasih di hari depan Aku mencintai waktu dengan setiap mutiara yang tersembunyi Ban yuwangi, 2017
Ario Abdillah yang makamnya terletak di Kebun Sahang KM 4 depan Makam Pahlawan Palembang adalah Adipati Palembang pertama setelah kota itu jatuh dalam kekacauan akibat pemberontakan Parameswara dan kemudian dikuasai para bajak laut Cina di bawah pimpinan Liang Tau Ming, Cheng Po-Ko, Chen Tsui, dan Shi Chin Ching. Ario Abdillah adalah putra Maharaja Majapahit Sri Kertawijaya, Wijaya Parakramawarddhana (Brawijaya V) yang berkuasa pada 1447-1451 M. Ario Abdillah lahir dengan nama Ki Dilah atau Arya Damar. Makam Ario Abdillah Palembang (Ario Damar) di Palembang Babad Tanah Djawi mencatat bahwa Ki Dilah adalah putra Prabu Brawijaya dengan putri denawa bernama Endang Sasmitapura, yang sewaktu hamil putri itu diusir dari keraton yang membuat Ki Dilah lahir di hutan Wanasalam di selatan ibukota Majapahit. Ki Dilah diasuh oleh uwaknya, Ki Kumbarawa, yang mengajarnya berbagai macam ilmu kesaktian. Sebutan denawa dalam Babad Tanah Djawi a dalah istilah yang digunakan or...
Aku menyaksikan perpecahan lautan kedengkian yang subur di tanah pertiwi kegelapan melanda ke seluruh penjuru hati dan jiwa keserakahan menyelimuti otak dan pikiran Perang saudara menjadi pemandangan yang paling sejuk di negeri ini kebencian menutup rapat tali keharmonisan dan alamku menjadi panggung yang mengerikan Apakah ini yang terjadi atau diriku yang sebenarnya mengarang sendiri atau dirikulah yang itu atau memang benar yang terjadi 2017
Comments
Post a Comment