Posts

MENCINTAIMU

Aku masih mengenalmu mengerti semua hidupmu dan masih menyimpan kedipan matamu di ujung lampu seperti biasa Aku masih mencintaimu menyayangimu sepenuh jiwa dan selalu merindu sepanjang usia seperti itu Aku masih membungkusmu membalut kepedihan seluas lautan dan menjadi bahtera tempatmu bersandar seperti doa Aku masih mengenangmu merenung di setiap baris-baris kebiasaanku dan menunggumu menjadi kupu-kupu hidupku seperti aku dan kamu Karangsuci, 2017

SURAT YANG KAU TITIPKAN PADA MALAIKAT

Aku masih terjaga sejak waktu tenggelam dan pagi menghampiri dedaunan hal yang paling sering kita bicarakan ialah tentang sepanjang petuah kita masing-masing Tadi, masalah pribadi embun yang seketika membasuh sekujur tubuhmu Sekarang, aku yang kebingungan mencari baju untukmu Nanti, hanya kita saling menyalahkan Sebenarnya aku sendiri tak pernah tahu sedang berkata apa dan dengan siapa di sini hanya ada ekor-ekor cicak dan sisa-sisa binatang malam yang bernyawa dengan masa tertentu Yang ingin kubicarakan adalah kamu yang bermalam di dekapan malaikat yang kukenal sejak kelahiran waktu itu malaikat yang pertama datang membawa surat untukku tentangmu yang juga memberikan sepotong bunga saat kau menangis Aku sempat bertanya padanya saat ia hendak memanjatkan tangannya ke atas tubuh dirinya saat itu aku percaya bahwa pertanyaanku adalah kekurangan yang harus diselesaikan meski ranting dalam dompetmu telah mengakar menjadi debu aku bertanya perihal kamu yang tertidur di...

KEMBALI MEMBAYI

Dalam puncak kebingungan yang membanjiri semua relung kehidupan aku hanya bisa mengadu pada hembusan nafasku sendiri Tak ada jalan pencarian Aku telah jauh dari kedamaian dari Tuhan, dan alam Tak ada lagi kata yang indah untuk menghiasi hari hanya ada kesediahn dan ratapan yang semestinya tak harus ada dalam hidupku Bukan tentang nasib yang menggelisahkan bahkan aku tidak tahu tentang itu. selain sisi-sisi kebenaran yang menyatu Entah tentang siapa lagi atau tentang kamu atau tentang diriku yang harus menjadi bunga dalam tidurku Karangsuci, 2017 17:30 WIB_

LANGIT-LANGIT SEPANJANG USIA

Setiap jalan kulewati Dengan takdir yang menggerakkannya Kubiarkan menyusupi lobang sempit Sungai-sungai keruh Langit-langit mendung Kubiarkan hatiku penuh dengan lumpur Comberan mengabad menghuninya Kerikil mengganjal urat dan nadi Dan puing-puing duri menyumbat tenggorokan Serta kubiarkan tubuhku kejang-kejang sepanjang usia Setiap waktu aku hanya memahami pergerakan lereng kehidupan Mengaduknya menjadi sajian Menghidangkan merupa makanan harian Sambil menikmati tiruan apa saja yang bisa ditiru Dan untuk itu aku melepaskan diri Dari bermacam kepingan itu Satu demi satu mengikat semua tubuh yang mungil Menjelma beban yang terus menumpuk Langit-langit sepanjang usia Membenturkan yang semestinya mesra Dan aku masih menghuni jalan berliku Untuk diramu menjadi kehidupan abadi Kedungbanteng, 2017

KAU AKU DAN ANGIN

Yang menjadi kenangan malam ini ialah kau aku dan angin di bawah diriku sendiri menyatukan ilusi yang panjang untuk dituliskan menjadi bait-bait rindu Seperti malam ini juga aku dan kau tak beranda menjadi gugusan kursi dan duduk bersama memandang dinginnya bukit-bukit di sini-di atas batu dan awan aku menjadi sendiri dari lampu-lampu sebelah jauh di kedipan mata Dengan terpaksa aku mencari rinduku bersama malam bersama angin-bersama embun-bersama puncak dan sedikit tumpukan api unggun yang menyiulkan kau dan aku Aku sendiri yang harus menjerit melepas keringat lama untuk menghilangkan hausku yang lama di lambung kenangan itu seperti malam ini juga aku mejadi diriku bersama rinduku sesudahnya aku dan kamu mencari legenda sendiri Biasanya aku menghitung bintang denganmu bersama gerimis yang diharapkan tapi tidak untuk malam ini aku harus mengumpulkan sendiri hasil renunganku dan menyerahkannya pada angin yang dingin Dan tiada lagi yang harus ditanyakan pada kita ...

KEMARIN MELIHATMU

Dari kedinginan setiap waktu Dipuncak awan-awan desa tua Kupijakkan kaki dengan kokoh Menggetar semesta ini Aku masih saja menyiulkan panorama keindahan alam Senja yang padang Tiada lagi menjadi indah ketimbang pepohonan dan atap-atap rumah Aku melihatya dengan indah Kampung, jika saja aku di atas rerumputan yang mengering Pastilah aku tahu rasanya kemarau di lahan-lahan rohanimu Tenanglah atas kedatanganku Kita akan mengesankan Yang Kuasa bersama Sejak kemarin kegundahan mencipta Sepi menyejukkan rongga-rongga yang kepanasan sepertiku Lemas seperti tua Tapi kita adalah cinta yang ada Tak perlu lagi pembahasan dan kata-kata panjang untukmu Karena kau segalanya Segalanya yang ada di hadapanku Sebuah desa beku yang awan menyelimuti tubuhmu Aku juga sedah rindu akan kedatangan hujan setiap sore Seperti dulu kita sebutkan jumlah air di pipimu yang merah Lalu kita saling merenung Dalam doa dan mimpi Di sini aku memulai perjalanan hidupku Dengan nafas sekedarny...

MENGUBUR ARTI

Di tempat ini aku mulai mengeringkan sisa tenaga Darah setetes yang tersisa terasa menjadi intan untuk di gunakan Kebingungan arah yang semakin membanjiri alam sadarku Menenggelamkan kebahagiaan yang semestinya ada Tak ada lagi sisa harapan Hanya sepi dalam keramaian Aku berjalan sendiri menyusuri tanah yang tak pernah aku kenal sebelumnya Mengelilingi rerumputan yang kering Gurun yang dahulunya menghijau merubah pandanganku untuk berpaling Menengadahkan tubuh ke arah yang berbeda Aku sendiri yang memilih menyerahkan apa yang aku miliki satu-satunya Semangat dan cinta Ijinkan aku memejamkan jalanku bersamamu Melupakan bekas pencarian yang kumiliki Menguburnya bersama luka Meninggalkannya bersama duka Memendamnya bersama semua tangis yang ada Setelahnya aku bebas memulai lahan yang mungkin baru mungki lama Tapi aku tak berani memulai Aku tak mengerti harus berjalan dari mana Semua telah hilang untuk dikembalikan Yang tersisa hanya penyesalan tiada akhirnya Kemba...